Ina Rachman Perempuan Islami Milenial Harus Tangguh

Ina Rachman
Spread the love

Ina Rachman Indonesia telah melahirkan banyak sekali perempuan islami pejuang yang hebat seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Kartini, dan sebagainya. Sejalan dengan itu, Bung Karno mengatakan bahwa Indonesia seperti sayap burung. Yang mana dua sayap tersebut perlu diisi dengan perempuan dan laki-laki.

Bagi Bung Karno, kesetaraan perempuan dan laki-laki merupakan hak bersama dan dapat mengantarkan Indonesia pada puncak tertinggi. Akan tetapi, saat ini muncul pertanyaan baru, dapatkan perempuan Islami milenial menjadi bagian dalam perkembangan sayap burung itu? Sehingga bisa mengantarkan negara ini pada puncaknya.

Perempuan milenial perlu meneruskan apa yang dicita-citakan oleh Bung Karno. Nah, sudah barang tentu Anda perlu meneruskan sesuai dengan karakteristik pada era milenial ini.

Setidaknya, ada tiga karakter perempuan milenial yang meliputi:

  1. Milenial merupakan pribadi yang connected. Ini berarti, perempuan Islami milenial adalah generasi yang melek teknologi serta media sosial.
  2. Milenial mempunyai gaya berpikir kreatif. Nah, pola pikir yang kreatif akan lebih mudah untuk disalurkan dikarenakan era digital pada saat ini. Nah, start up merupakan bukti dari kreativitas perempuan milenial.
  3. Milenial merupakan generasi yang percaya diri. Terlihat saat ini banyak perempuan yang berani speak up di media sosial. Bahkan, dalam Majalah Time, menyebutkan jika milenial adalah generasi yang narsis.

Ina Rachman, Perempuan Milenial yang Jadi Inspirasi

Pada era saat ini, telah banyak perempuan milenial yang mandiri dan menduduki posisi penting di perusahaan. Salah satunya adalah Ina Rachman. Perempuan yang memiliki nama lengkap Ina Herawati Rachman, SH, MH ini merupakan direktur bagi Maestro Patent International.

Selain itu, Ina juga menempati posisi sebagai managing partner di Ina Rachman-Mulyaharja & Associates law firm. Tak hanya itu saja, Ina juga menjadi direktur untuk beberapa perusahaan multi level marketing berskala internasional.

Fakta ini membuktikan jika Indonesia mempunyai banyak perempuan milenial yang tangguh dan hebat. Sebab, pada kenyataannya, Indonesia juga membutuhkan pikiran yang progresif dari perempuan millennial.

Meskipun pada dasarnya, perempuan Islam cenderung identik dengan urusan domestik rumah, tetapi ada kalanya muslimah milenial juga mengenal Ina Rachman. Sosok ini nyatanya bisa memberikan pengaruh yang besar untuk bangsa Indonesia dan umat. Melalui Ina dan APLI, banyak perusahaan network marketing lurus yang bernaung di bawahnya.

Sehingga, keberadaan ekonomi Indonesia semakin kuat. Masyarakat pun menjadi semakin sejahtera.

Bukan bermaksud membandingkan. Namun, pemikiran Ina juga sejalan dengan apa yang ada pada diri seorang tokoh Islam pada masa Rasulullah yakni Khadijah binti Khuwaylid, sang Istri Rasulullah.

Khadijah merupakan saudagar dan perempuan yang tangguh. Istri yang paling dicintai oleh Rasulullah ini tidak hanya berpangku tangan dan menunggu hasil nafkah dari suami. Pada awal dakwah Rasulullah, bahkan, Khadijah memberikan semua hartanya agar dakwah bisa sukses.

Melihat kasus lain, Aisyah yang memiliki gelar Ummul Mukninin bahkan terlibat langsung mengangkat senjata pada berbagai perang yang dihadapi. Ia juga menjadi cendekiawan muslim yang meriwayatkan ribuan hadist.

Perempuan Islami milenial juga harus sama-sama berjuang sesuai dengan masanya. Seperti Ina Rachman yang getol membela hak-hak banyak pihak di bidang hukum. Bahkan, ia juga berkecimpung dalam berbagai bisnis. Potensi yang begitu besar pada perempuan sudah selayaknya dimanfaatkan.

Apalagi, saat ini, peluang perempuan sudah semakin besar. Ruang geraknya semakin lebar. Ina Rachman menjadi contoh sosok perempuan yang berani berjuang. Menyerukan pendapat agar keadilan hukum di Indonesia terlaksana. Serta ekonominya semakin maju lagi.

Belajar dari Sejarah dan Kiprah

Sejarah serta kiprah istri nabi sudah selayaknya menjadi teladan. Bahwa perempuan tak seharusnya hanya di rumah. Kesibukannya tidak hanya urusan domestik semata. Melainkan bisa memanfaatkan potensinya seperti Ina Rachman yang memberi kontribusi pada negara.

Tapi, kan haram? Siapa bilang? Perempuan melakukan aktualisasi diri adalah sah secara gaman dan konstitusional. Perempuan adalah pilar suatu bangsa. Apabila pilarnya kuat, maka bangsanya juga akan kuat. Jika perempuan lemah, maka bangsa tersebut juga akan menjadi lemah.

Arti perempuan islami tidak sesempit baik dari segi akhlak dan moral saja. Sepenuhnya, perempuan bisa menjadi tangguh dari sisi fisik, psikis, dan juga kontribusinya untuk masyarakat.